Selasa, 30 Maret 2010

Grafiti pada zaman modern

Grafiti pada Tembok Pemisah Israel di Israel-Palestina.

Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding.

Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek yang sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi yang hanya dipahami golongan tertentu. Biasanya karya ini menunjukkan ketidak puasan terhadap keadaan sosial yang mereka alami.

Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. Ada banyak sekali seniman terkenal yang mengawali karirnya dari kegiatan grafiti.

Kamis, 25 Maret 2010

desain grafiti







contoh gRaffiti

















mW,,,,,,,,,,,,,,,,,liaTtttttt,,,,,,,,,,,,,,,,,,gRaffiti,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,mO2n_pOenJa,,,,,,,,,,,,,lgEeeeeeee,,,,,,,,,,,,,,nEy cntohnya,,,,,,,,,,,liAtttttt,yAaaaaaaaaaa,,,,,,-_^!!!!!!!!!!!!!!!!!!


cara membuat grafiti

Cara Membuat Graffiti 3 dimensi

GRAFFITI SEDERHANA ON KANVAS

Graffiti banyak sekali jenisnya mulai dari abstrak, wildstyle, bubble, dan 3 dimensi. Dalam posting ini saya ingin member sedikit penjelasan bagaimana cara membuat graffiti 3 dimensi.

  1. Pertama-tama yang harus anda lakukan adalah membuat sketsa gambar di sebuah kertas.
  2. lalu anda mencari tembok kosong dan anda cat dasar putih agar warna pada pilox dapat menyatu pada tembok.
  3. setelah itu siapkan sketsa graffiti 3 dimensi yang telah anda buat.
  4. siapkan pilox yang telah anda persiapkan.
  5. apabila anda masih pemula dan ragu-ragu (masih takut) memegang pilox sebaiknya anda membuat sketsa di tembok tersebut menggunakan pensil terlebih dahulu, namun apabila sudah professional anda langsung saja menggunakan pilox namun sebaiknya jangan menggunakan pilox warna hitam terlebih dahulu.
  6. oh iya jangan lupa sebelum anda membuat sketsa di tembok sebaiknya anda siapkan MAL. Apa itu MAL? Mal adalah sebuah alat yang di gunakan untuk penggaris di tembok, Mal terbuat dari kertas/karton/triplek/Koran. Cara membuat MAL yaitu siapkan missal karton anda potong menjadi dua bagian terus anda lipat lurus. Dan ujungnya yang lurus itulah yang akan di gunakan sebagai penggaris pada tembok.
  7. setelah MAL siap dan anda sudah membuat sketsanya di tembok lalu anda mulai mewarnai sketsa yang anda buat di tembok tersebut. Agar graffiti 3 di mensinya timbul anda harus menyiapkan warna yang pas missal untuk bentuknya warna hijau muda kemudian shadownya harus warna hijau agak gelap agar warna yang di hasilkan menyatu.
  8. lalu mewarnai pada graffiti tersebut agar kelihatan rapi dan indah sebaiknya menggunakan MAL yang telah anda buat tadi.
  9. setelah itu hasil graffitinya sudah rapi tinggal anda beri blur hitam dan putih pada shadownya.
  10. kemudian anda akan menghasilkan graffiti berbentuk 3 dimensi.
  11. semoga berhasil dan sukses. Maju terus graffiti di Indonesia. “respect to art”

contoh grafiti

Contoh Desain


2bs_by_rusher.jpg

Graffiti klasik banget


akay.jpg Graffiti klasik biru


10.jpg Graffiti penuh warna


9.jpg Graffiti klasik gedung


8.jpg Graffiti biru fangki


7.jpg Graffiti gaul


6.jpg Graffiti romansa


5.jpg Graffiti huruf jepang api


4.jpg Graffiti gaya jogja


3.jpg Graffiti animasi mario


2.jpg Graffiti kayal studio


1.jpg Graffiti laut bebas


SEJARAH GRAFITI


Kebiasaan menulis coretan di dinding bermula
dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasi-
kan perburuan.

Pada masa ini, graffiti digunakan
sebagai sarana mistik dan spiritual untuk membangkit-
kan semangat berburu. Perkembangan kesenian di
zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktifitas
melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini
mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang
pharaoh Firaun setelah dimumikan. Kegiatan graffiti
sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru
dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya
lukisan sindiran terhadap pemerintahan di dinding-
dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di rerun-
tuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri
dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskre-
ditkan pemeluk Kristen yang pada zaman itu dilarang
kaisar.
Di Indonesia, pada masa perang kemerdekaan
graffiti menjadi alat propaganda yang efektif dalam
menggelorakan semangat melawan penjajah Belanda.
Keberanian menuliskan graffiti maka nyawa menjadi
taruhannya. Masyarakat yang menjadi penulis graffiti
pada saat itu menjadi posisi yang penting juga dalam
masa peran kemerdekaan. Pelukis Affandi pada masa
peperangan melawan penjajahan Belanda pernah
membuat slogan yang dia buat ”Boeng Ajo Boeng!”
yang kemudian dituliskan di tembok-tembok jalanan.

Menurut catatan Majalah HAI No. 36/XXX/4
September-10 September 2006, gerakan graffiti di
Indonesia diawali sekitar tahun 1970-an berupa tag
atau coretan tanda tangan pembuat serta coretan
tulisan-tulisan yang lebih memaknakan identitas
kelompok atau geng, nama sekolah, sumpah serapah,
kritik sosial anti- pemerintah bahkan nama seseorang
yang disukai. Cat semprot di Jakarta pada tahun 1970
sudah marak. Sehingga pada saat itu Jakarta
disemarakkan oleh coretan-coretan yang dimaksudkan
sebagai kebanggaan kelompok atau geng, seperti
“Rasela” yang berarti Rajawali Selatan di kawasan
Gunung Sahari. “T2R” di wilayah Tomang-Slipi-
Grogol atau “Lapendos (Laki-laki Penuh Dosa)”.
Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ada geng
yang menuliskan “Legos”, lalu ada “Cokrem (Cowok
Krempeng)” di sekitaran Pangudi Luhur serta geng
anak-anak mobil yang menamakan dirinya
“Mondroid”.
Di Bandung pada tahun-tahun 1970-1980 ada
geng yang menuliskan graffiti “Orexas (Organisasi
Sex Bebas)” yang menyemarakkan kota ini. Tulisan
tersebut diambil dari popularitas novel yang ditulis
oleh Remy Silado. Graffiti di Jogjakarta pada sekitar
tahun 1980-1995 pernah disemarakkan oleh graffiti
yang memenuhi spot-spot di kota Jogja. Graffiti
tersebut bertuliskan “JXZ” atau “Joxzin” yang
menyiratkan juga pada kebanggaan kelompok atau
geng.
Selain nama geng, ada juga graffiti yang bernada
iseng. Graffiti jenis ini tidak dimiliki oleh perorangan
atau kelompok, namun seperti menjadi milik bersama,
karena hampir di setiap kota, tulisan ini selalu ada di
tembok maupun dinding alat transportasi. Tulisan
seperti “AN3DIS (Antigadis)”, “Can Are Rock (Ken
Arok) atau “PRA ONE TWO LAND (Perawan
Tulen)”.
Pada dekade 1980-an, graffiti geng mulai ber-
kurang dan digantikan oleh nama sekolah. Jenis
tulisan pada graffiti ini terbilang unik, karena graffiti
jenis ini tidak ditemukan di negara manapun. Pembuat
graffiti ini ingin membawa identitas sekolah ke dalam
coretan-coretannya, misalnya ada “Mahakam Six”,
“Brigade 70”, “Dos-Q”, “Kapin” dan “Kapal 616”.
616 dipakai untuk merujuk kepada angkutan umum
Kopaja bernomor 616 yang sering dipakai anak-anak
sebuah sekolah di bilangan Jalan Wolter Monginsidi,
Blok Q, Kebayoran. Gerakan graffiti ini menginspirasi
lagu berjudul “Tangan Setan” ciptaan Ian Antono
yang dipopulerkan oleh Nicky Astria pada perte-
ngahan tahun 1980 sebagai wujud anti-graffiti yang
pada saat itu berkesan merusak wajah ibu kota,
Jakarta.
Gerakan graffiti yang terus berlanjut hingga
pertengahan tahun 1990 corak atau gaya graffiti masih
berupa coretan-coretan liar dari cat semprot maupun
spidol. Namun seiring dengan terbukanya informasi
dan teknologi yang memungkinkan masyarakat dapat
mengakses berita dari ruang maya (internet), menjadi-
kan pada sekitar tahun 2000 graffiti menemukan
gayanya yang baru di Indonesia. Gerakan yang
mengarah pada artistic graffiti ini dipelopori kebanya-
kan oleh mahasiswa seni rupa di Jakarta, Bandung dan
Jogjakarta. Karya-karya graffiti dari luar negeri pun
menjadi inspirasi pembuat graffiti (selanjutnya disebut
bomber) di Indonesia.
Graffiti naik pamornya pada masa 1990 awal.
Pada saat itu graffiti diangkat oleh Alm. YB Mangun-
widjaja atau Romo Mangun menjadi salah satu bentuk
kesenian dalam program graffiti dan seni mural untuk
perkampungan kumuh di pinggiran Kali Code,
Jogjakarta. Bilik atau papan rumah-rumah di daerah
itu pun tampil dengan tidak kumuh tetapi lebih segar
dipandang.
Meskipun model tagging sudah mulai ditinggal-
kan dan beralih ke model graffiti artistik dengan
berbagai bentuknya (bubble, wildstyle dan 3D),
namun pola yang sama masih diterapkan, yaitu
mereka masih menuliskan nama komunitasnya
meskipun dalam graffiti artistik terkadang tingkat
keterbacaannya lemah tertutupi oleh bentuknya yang
artistik dengan permainan warna dan bentuk. Nama
komunitas inilah yang oleh beberapa orang diasumsi-
kan sebagai identitas yang ingin ditunjukkan sekaligus
sebagai motivasi mereka dalam membuat graffiti.
Tidak berbeda dengan saat ketika graffiti ini dilakukan
pertama kali di Amerika Serikat sekitar awal tahun
1970 bersamaan dengan lahirnya breakdance (Bam-
bataa, 2005:85). Membuat graffiti untuk menunjukkan
identitas sebagai personal maupun komunitas adalah
hal yang penting dan lebih penting daripada tulisan-
tulisan yang berisi pesan sosial.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa-
kah komunitas graffiti yang sekarang tumbuh dan
berkembang di Indonesia dan telah menyebar di ber-
bagai kota besar masih melakukannya demi identitas
ataukah graffiti telah menjelma menjadi perwujudan
tren? Artinya di saat remaja yang lain membuat
graffiti, maka sebagai wujud bahwa mereka akan
diterima secara sosial adalah melakukan hal yang
sama dilakukan oleh remaja lain bahkan menjadi
kebutuhan untuk dilihat bahwa mereka adalah remaja
yang tidak ketinggalan jaman. Atas dasar pertanyaan
itulah, tulisan ini dibuat untuk menganalisis apakah
membuat graffiti di era dimana komunitas bomber
bermunculan sekarang ini masih memiliki ideologi
seperti penanaman politik identitas yang berujung
pada kebanggaan memiliki kelompok maupun diri.

JOGJA

SEMAR GARENG


Creative Theme Day #1 : Please Don't Sell My Country

Its Creative Theme Day, a campaign of creativity. This time, the theme is “Kata-kata (Kaos) Kreatif Kota Kita” (Creative (TShirt) Words of Our City). And from under the Lempuyangan’s flyover, there is message from Jogja’s people for the leader of Indonesia : Aja Adol Negara (Please Don’t Sell My Country). Simple message for all of the President candidate.

Life is Getting Harder

From day to day.. life is getting harder and harder.. especially when the Indonesia government had a plan to increase the fuel price..

picture grafiti

grafiti picture

GEEKY GRAFITI




Games / Time Snail