Kamis, 25 Maret 2010
grafiti jogja
| grafiti jogja |
entah. yang jelas, corat-coret sepanjang jalan parangtritis ini cukup menyita perhatian orang, untuk kemudian tersenyum kecut, atau nyengir, sambil tetap prihatin...
rajawali grafiti
Rajawali Grafiti
Rajawali Grafiti adalah sebuah nama perusahaan penerbit manga di Indonesia.
Penerbit ini menerbitkan beberapa judul manga yang cukup terkenal, di antaranya Dragon Ball dan City Hunter, namun semuanya adalah penerbitan ilegal yang tanpa lisensi dari pengarang aslinya di Jepang.
"Teknik-teknik" yang ilegal
Contoh dari tindakan ilegal lainnya yang dilakukan Rajawali Grafiti adalah "memperpanjang" cerita Dragon Ball. Setelah cerita aslinya berakhir pada volume 42, pihak Rajawali dengan sepihak menambah cerita buatan sendiri yang disamarkan sebagai karya asli. Dragon Ball kemudian diterbitkan dengan lisensi oleh Elex Media Komputindo.
Selain itu, Rajawali juga pernah menggambar ulang manga-manga asli secara penuh. Contohnya adalah Doraemon yang diubah menjadi judul Mr IQ dengan menghapus gambar Doraemon yang asli dan menggantinya dengan karakter buatan Rajawali Grafiti yang bernama Mr IQ .
Rajawali Grafiti juga pernah menerbitkan komik yang diambil dari anime, teknik yang dilakukan yaitu dengan melakukan capture frame dari anime tersebut dan menerbitkan dalam komik format berwarna. Format komik seperti ini paling banyak diambil dari OVA Dragon Ball dengan judul DB Master, DB Master sendiri sekarang tercatat telah keluar hingga delapan seri. Dari judul lain yaitu diambil dari OVA YuYu Hakusho dengan judul Ghost Master
Rajawali Grafiti paling sering melakukan perubahan nama-nama karakter dalam manga. Nama yang paling sering digunakan untuk tokoh utama pria adalah Takeshi.
Buku dan kualitas penyuntingan
Ukuran buku-buku terbitan Rajawali bisanya lebih besar dari yang diterbitkan Elex Media Komputindo, namun ada juga yang malah lebih kecil, seperti Slam Dunk.
Kualitas penyuntingan yang dilakukan untuk menyesuaikan bahasa dalam komik bisa dibilang buruk. Contohnya dalam mengganti suara efek (seperti BANG!, DUAR!), efek-efek suara bahasa Jepang dihapus tanpa mempedulikan hasil akhirnya yang bisa merusak gambar karya sang mangaka.
Penerbit ini akhirnya tutup pada 1998 setelah terkena dampak krisis moneter.
Manga-manga terbitan Rajawali Grafiti
Berikut adalah beberapa manga yang pernah diterbitkan Rajawali Grafiti:
- Video Girl Ai diterbitkan sebanyak 13 seri, VG Len digabung dalam judul yang sama.
- DNA²
- 3x3 Eyes diterbitkan dengan judul 3x3 Mata
- Dragon Ball
- Slam Dunk
- Dragon Quest
- City Hunter
- Ranma 1/2
- YuYu Hakusho diterbitkan dengan judul Ghost
- Sote
- Dr Slump'
- Hokuto no Ken diterbitkan dengan judul Tinju Bintang Utara
- Sote
- GuyVer
- JoJo's Bizarre Adventure diterbitkan dengan judul Mission Imposible sebanyak 11 seri
- Yaiba
- Saint Seiya
- Black Masked Rider
- Kimagure Orange Road
- Catseyes
- Patlabor
- Rockman diterbitkan sebanyak 4 seri
- GUNNM, dikenal juga dengan judul Battle Angel Alita
- Crayon ShinChan diterbitkan dengan judul Crayon
- Magical Taruruto Ken diterbitkan dengan judul Boneka penyihir
- Ah! My Goddess diterbitkan dengan judul Belldandy
- Kotaro diterbitkan dengan judul Kungfu Kid, manga ini telah diterbitkan secara resmi oleh Elex Media Komputindo dengan judul Kotaro: Karate Rahasia Kyokutan
- Sakigake!! Otokojuku, diterbitkan dengan judul Darah Satria
- Kiseijuu diterbitkan dengan judul Monster Parasit
- What's Michael diterbitkan dengan judul Si Cerdik Michael
grafiti
Grafiti
Grafiti (juga dieja graffity atau graffiti) adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur.
Sejarah
Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu.
Perkembangan kesenian di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan.
Kegiatan grafiti sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya lukisan sindiran terhadap pemerintahan di dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar.
Grafiti pada zaman modern
Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding.
Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek yang sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi yang hanya dipahami golongan tertentu. Biasanya karya ini menunjukkan ketidak puasan terhadap keadaan sosial yang mereka alami.
Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. Ada banyak sekali seniman terkenal yang mengawali karirnya dari kegiatan grafiti.
Fungsi grafiti
- Bahasa rahasia kelompok tertentu.
- Sarana ekspresi ketidak puasan terhadap keadaan sosial.
- Sarana pemberontakan.
- Sarana ekspresi ketakutan terhadap kondisi politik dan sosial.
Hukum
Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok kosong, grafiti pun sering dibuat di dinding kereta api bawah tanah.
Di Amerika Serikat sendiri, setiap negara bagian sudah memiliki peraturan sendiri untuk meredam grafiti. San Diego, California, New York telah memiliki undang-undang yang menetapkan bahwa grafiti adalah kegiatan ilegal. Untuk mengidentifikasi pola pembuatannya, grafiti pun dibagi menjadi dua jenis.
Gang grafiti
Yaitu grafiti yang berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang, atau tulisan tentang apa yang terjadi di dalam gang itu.
Tagging graffiti
Yaitu jenis graffiti yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok. Semakin banyak graffiti jenis ini bertebaran, maka makin terkenallah nama pembuatnya. Karena itu grafiti jenis ini memerlukan tagging atau tanda tangan dari pembuat atau bomber-nya. Semacam tanggung jawab karya.
Sabtu, 20 Maret 2010
grafiti
Grafiti, Bukan Sekedar Coretan
Oleh Chyntia Sheila Elok Paemdong | 2 September 2009 | HumanioraLukisan aneka warna yang ada pada dinding-dinding rumah, toko maupun pagar tembok ternyata bukan sekedar coretan. Bila dicermati, tersirat makna dalam seni menggambar dinding yang dikenal dengan nama grafiti tersebut. Hal ini merupakan wujud ekspresi merekadalam menyampaikan pesan kepada semua orang yang melihatnya.
Coretan yang dulu sempat dianggap merusak lingkungan ini nampaknya semakin banyak peminat. Hal ini terbukti saat pembuat grafiti alias bomber pada Sabtu (15/8) kemarin mengekspresikan karya seninya di sepanjang tembok belakang Hotel Maya, Jalan Monginsidi, Salatiga. Mereka berkompetisi dalam acara “Born to Burn, Salatiga Graffiti Competition” yang diselenggarakan oleh Sinner Crew (komunitas grafiti Salatiga) bekerjasama dengan Rinto Sujarwo Photography, sebagai sponsor utama.
Born to Burn sendiri merupakan acara tahunan Sinner Crew yang diselenggarakan di Salatiga. Tahun lalu acara yang sama mereka selenggarakan di sepanjang tembok Jalan Kalimangkak. Acara kali ini merupakan yang keempat, namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya menggambar bersama dan tahun ini, mereka menggambar untuk dilombakan.
Dalam lomba yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB tersebut, merupakan wujud keikutsertaan komunitas grafiti dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-64. Tema yang diambil adalah “Fotografiti Semangat Kemerdekaan” dan diikuti oleh 17 peserta dari berbagai kota di Jawa Tengah. Peserta lomba merebutkan total hadiah Rp 2 juta, beserta tropi dan sertifikat.
Masing-masing peserta pun disibukkan dengan spray paint (cat semprot), cat (yang mereka bawa sendiri — Red) dan tembok yang sudah disediakan panitia. Tangan-tangan cekatan para bomber pun beraksi. Mencat, menyemprotkan spray paint, mundur ke belakang, memandang dari kejauhan, ditemani rokok terselip di antara jari-jari mereka, itulah yang dilakukan saat menggambar. Menuangkan konsep yang telah direncanakan sebelumnya, dilakukan secara bergantian oleh kelompoknya. Keramaian jalan pun tak mampu memecah konsentrasi mereka.
Penduduk sekitar yang ikut menonton aksi mereka pun mendukung acara ini. “Temboknya terlihat lebih bagus dengan grafiti yang keren seperti itu. Asalkan setelah kompetisi ini mereka bertanggungjawab akan kebersihan, peralatan yang mereka gunakan segera dibersihkan. Mereka berharap acara ini akan ada lagi tiap tahunnya,” ucap Zara, remaja yang tinggal disekitar tempat tersebut.
Pukul 15.00 WIB, ketiga orang juri mulai melakukan penilaian hasil karya mereka. Juri tersebut adalah Rinto Sujarwo, Tomi Febriyanto (penikmat seni sekaligus dosen Fisipol UKSW), dan Bayu “Yop” (salah seorang bomber Salatiga).
Keputusan juara kompetisi ini yang dibacakan Tomi. Juara Pertama diraih oleh mahasiswa Universitas Atmajaya, Rune dan As. Juara kedua, Mosses dan Hila. Dan juara ketiga, diraih oleh Ferdy dan Al. Pemenang, semuanya peserta dari Yogyakarta.
Saat dikonfirmasi Tomi mengatakan, “Mereka memenuhi kriteria dalam kompetisi ini.”
“Kesesuaian dengan tema, membuat grafiti tersebut menjadi sinkron dengan fotografi sesuai konsep fotografiti, mengaplikasikan unsur fotografi ke grafiti, serta seperti pada umumnya komposisi warna dan tagging grafiti itu sendiri,” jelasnya.
Dalam grafiti yang dibuat oleh Rune dan As, terlihat seorang wanita mencium sang merah putih yang ada di dekapan tangannya. Di sampingnya font grafiti besar bertulis “Merdeka”. Di antara tulisan dan gambar sosok seorang wanita, terdapat tulisan “HUT RI ke-64″, kemudian di bawahnya “Benderaku Kebanggaanku…”.
“Seorang wanita identik dengan kelembutan, sangat cocok memegang bendera merah putih yang suci,” jawab Rune saat ditanya Scientiarum mengenai konsep karyanya.
“Bendera merah putih lambang kemerdekaan, mengingatkan kekuatan yang begitu besar akan perjuangan bangsa, namun untuk meneruskan kemerdekaan sekarang ini perlu kelembutan bukan hanya kekerasan, agar bangsa Indonesia tetap bersatu,” tegasnya.
Rune membawa pacarnya. Ia mengatakan kalau pacarnya itulah yang menjadi sumber inspirasi karyanya. Dan ada pula salah satu bomber dari mahasiswa UKSW yang mengatakan terinspirasi Mbak Ipah, pelayan café UKSW yang terkenal latah.
Tidak terlihat kekecewaan yang berarti dari para peserta yang lain. Usai acara Born to Burn ini, mereka meneruskan hasil karya mereka dengan spray paint dan cat yang masih tersisa.
Tujuan utama mereka bukanlah menang ataupun kalah, juga bukan hanya untuk merebutkan hadiah. Mereka cukup senang bisa menyalurkan hobi mereka, bisa saling belajar antarpeserta, dan acara kumpul bersama bomber itupun cukup mengasyikkan. Itulah yang diucapkan sebagian besar peserta saat ditanya tentang tujuan mereka mengikuti kompetisi ini.
Kompetisi grafiti ini bisa menjadi ajang kreativitas dalam mengolah huruf juga warna bagi peserta. Menjadi wadah para bomber untuk dapat menyalurkan hobi dan bakat — graffiti khusunya — lebih terarah dan tanpa merusak fasilitas umum.
Grafiti bukan sekedar coretan. Grafiti adalah sebuah seni rupa yang patut hargai dan dikagumi oleh siapapun. Keindahan perpaduan komposisi warna dengan cat dan pylox, melukiskan kalimat di atas dinding, menjadi wujud karya para bomber.











